No Image Preview
No Image Preview
No Image Preview

SID Archieve News 9


We just loved to play and didn’t care about anything
else. It was very surreal, being wandering around,
being part of this big circus.”
(Chris Joannou – Bass Player of Silverchair. Courtesy
of Tomorrow Never Knows, The Silverchair Story,
written by: Jeff Apter, Coulomb Communications 2003)


Waktu itu, hari beranjak larut. Sekitar pukul 10 malam. Waktunya untuk pulang ke rumah. Mengakhiri hari. Tapi, ada satu keinginan tertinggal, pergi ke warnet. Cek email sebentar, browsing beberapa gambar aneh untuk kepentingan bisnis, dan menghabiskan waktu seraya menunggu mata kehilangan kekuatannya.

Setelah di warnet, mulai membuka satu demi satu tujuan semula, ada sebuah surat yang masih sangat-sangat segar masuk ke salah satu mailing list yang saya ikuti. Tajuk surat itu lumayan menggugah saya untuk membukanya dengan segera. Saya lupa persisnya seperti apa, tapi isinya tentang salah satu band lokal yang berhasil mencuri rasa
kagum yang terdapat di dalam diri ini, Superman Is Dead.

Tanpa pikir panjang, saya buka email itu. Pengirimnya, saya masih ingat, Wendi. Seorang kritikus musik, seorang metalhead lokal kelas atas (yeah, ini cuma penafsiran dari masa lalu di dunia maya), dan seorang yang sangat dihargai di scene lokal Indonesia. Satu demi satu baris terpampang dalam waktu yang tidak terlampau lama. Setelah lengkap, saya mulai membacanya.

Cerita yang dikirim Wendi merupakan forwarded email dari sebuah milis lain, kebetulan saya juga menjadi anggotanya. Tapi, entah kenapa saya tidak membuka milis tersebut malam itu. Cerita yang disuguhkan merupakan semacam laporan aksi panggung Superman Is Dead di Medan.

Perjalanan membaca dari satu baris menuju baris berikutnya sangatlah tidak nyaman. Dikisahkan di sana, Superman Is Dead mendapatkan perlakuan yang sangat tidak layak dari publik Medan. Mereka memang mendapatkan lemparan khas orang Medan (konon, orang Medan biasa melempari artis musik yang dianggap penampilannya bagus. Entahlah, saya belum pernah menyaksikannya langsung). Tapi kali ini, bukanlah lemparan tanda salut yang mereka biasa lakukan. Tapi lemparan tanda penghinaan. Lemparan tanda benci. Lemparan tanda nggak suka.

Dikisahkan satu demi satu spanduk beterbangan ke arah panggung. Bahkan di dalamnya ditulis juga mungkin kotoran manusia ikut terbang menuju ke arah mereka. Akhirnya Superman Is Dead mengakhiri penampilan mereka pada lagu ke enam. Ditulis di situ, mereka memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan repertoir karena keadaannya memang sudah sangat tidak memungkinkan untuk melanjutkan pertunjukkan. Tapi kemarahan penonton tidak reda. Mereka masih berusaha untuk mengejar Superman Is Dead ke belakang panggung. Aura kekerasan sudah sangat membumbung tinggi waktu itu. Setelah melalui keadaan chaos yang sudah semakin tidak terkendali di venue, rombongan Superman Is Dead berhasil menyelamatkan diri keluar dari venue. Tapi, masih menurut cerita itu, penonton masih tidak puas. Mereka mulai meneriakkan agar mereka dikejar terus sampai ke penginapan. Untung, pada akhirnya hal ini tidak terjadi.

Cerita pertama berakhir di sini. Saya terperanjat begitu cerita ini sampai di bagian akhir. Tidak percaya. Kecewa. Nggak bisa terima. Wah, campur aduk rasanya perasaan saya waktu itu. Tanpa pikir panjang, saya langsung mengambil ponsel di tas dan mengirim sebuah pesan singkat ke sebuah nomor ponsel +62817978XXXX, begini bunyinya:
“Dude, just read a fwded email from Wendi in SG groups.. Did u have
a very fucking bad gig in Medan? The Story was so spooky. You have to
see it asap. Cheerio..”

Itu adalah salah satu nomor ponsel Rudolf Dethu, manajer Superman Is Dead. Malam itu, mereka juga punya sebuah jadwal di Yogyakarta. Ia tidak membalas. Saya pulang ke rumah. Sekitar pukul 1 dinihari saya mematikan ponsel saya. Sudah saatnya tidur.

Paginya, saya bangun sekitar pukul 10 pagi. Begitu saya aktifkan kembali ponsel saya, sebuah sms masuk. Waktu pengirimannya 02:09:35. Sang pengirim: Dethu. Ini balasan sms saya semalam. Begini bunyinya:

“Bkn cuma Medan. Jogja juga rusuh. Sudah takdir SID he he... Tapi di Jogja klimaksnya bagus krn SID berdiri tegak menantang! Don't worry, dude.We ain't gonna give up!”

Saya kaget. For god sake, they've faced two nights in a row with some bloody bastard that ruined their gigs. What the fuck??? Saya langsung membalas sms itu.

Wow. It must be a hard time 2 face 2 nights in a row with some chaos. Btw, i think u have to pass along this news. Some clarification, maybe. Be strong, man..

Singkat cerita, saya mendapat kabar yang sama sekali tidak mengenakan itu di pagi hari dan jujur, dari lubuk hati yang paling dalam, sebagai seorang penggemar saya marah. Tidak pernah bisa menerima apa yang dilakukan para perusuh itu pada salah satu band yang saya gilai.

Sekitar pukul 4 sore, ponsel saya berdering, tertera Dethu yang memanggil. Saya angkat. Kita ngobrol. Ia menanyakan apa saja yang tertulis di email itu. Dia juga bercerita tentang pertunjukkan di Yogya. Hal yang hampir sama terjadi kembali. Dethu mengisahkan bahwa mereka memang dilempari. Bahkan Bobby pun sempat mendapat bogem mentah dari penonton, walaupun tidak keras. Tapi, ironisnya pada akhir pertunjukkan seorang tokoh punk lokal yang cukup disegani -salah seorang teman Jerink juga-, namanya Burhan datang menghampiri mereka di belakang panggung. Burhan mengklarifikasi bahwa yang melakukan kekacauan itu bukanlah bagian dari anak punk Yogyakarta. Burhan mengaku tidak tahu siapa yang melakukan itu. Yang jelas, bukan komunitas punk Yogya.

Lantas saya bertanya pada Dethu, "Elo tau nggak sih apa yang sebenernya salah pada diri kalian?" Dia menjawab, "Nggak. Nggak jelas kenapa kita diginiin." Saya sudah menduga alasan itu yang akan keluar dari mulut dia. Sepanjang pembicaraan selama hampir 5 menit itu, saya cuma bisa berkata: "Anjing!" selama beberapa kali menyusul rasa panas saya pada cerita Dethu tentang perlakuan penonton pada Superman Is Dead. Saya hanya bisa menggolontorkan ide untuk membuat sebuah t-shirt bertuliskan 100% Superman Is Dead. Sederhana.

***


Perkenalan langsung saya dengan band ini dimulai sekitar awal tahun 2002. Sebelumnya yang saya dengar hanya beberapa rilisan mereka yang tidak pernah saya dapatkan. Waktu itu, saya mendapat kabar bahwa mereka akan merilis sebuah EP (kemudian akan menjadi EP fenomenal mereka, Bad Bad Bad) yang merupakan rilisan penuh mereka yang ketiga. Pertangahan tahun, saya pergi ke Bali. Liburan. Saya memaksakan diri untuk datang ke Poppies Lane 2, markas mereka. Tujuannya: membeli kaos Superman Is Dead dan EP Bad Bad Bad. Dan, saya mendapatkannya. Saya ingat, waktu itu kopi terakhir yang ada di Twice Tape (toko rekaman milik Jerink) adalah kopi yang saya pegang sampai hari ini. Waktu itu, semua personil Superman Is Dead kebetulan ada di tempat itu dan sang kasir menawarkan tanda tangan semua personil di CD yang saya beli. Saya pikir, "Kenapa tidak?" Akhirnya saya kembali ke hotel, memutar CD tersebut di CD player saya dan... terkagum-kagum.

Persentuhan kedua terjadi ketika band ini manggung di Jakarta akhir tahun 2002. Kebetulan saya juga mendapat sebuah tugas dari tempat saya bekerja untuk menulis tentang mereka. Saya harus menjalin komunikasi dengan Dethu sebelum datang dan mewawancarai mereka. Wawancara itu sendiri berjalan mulus. Saya membeli lagi sebuah kaos Superman Is Dead dengan harga khusus dan memenuhi undangan Dethu untuk datang ke kamar hotel Bobby yang tidak jauh dari venue pertunjukkan. Kami berjalan kaki. Berdua. Ia bercerita tentang banyak hal. Terutama tentang kiprah Superman Is Dead. Hari itu berakhir ketika saya memutuskan untuk pergi ke sebuah tempat lain. Saya menutupnya dengan sebuah sloki peletokan (entah apa saja
campurannya) dalam botol Red Label.

Setelah itu, saya hanya berkomunikasi dengan mereka lewat email. Tidak lebih. Hal yang paling prestisius adalah ketika sebuah email masuk ke inbox saya. Isinya sebuah konfirmasi bahwa mereka akan bekerja sama dengan sebuah mayor label lokal berskala internasional untuk 6 album ke depan. Ada sebuah hal yang jauh lebih membanggakan lagi, mereka mendapatkan kontrak ini tanpa sebuah penjajahan. Jadi, murni kerja sama. Bukan terdapat sebuah struktur hirarki majikan dan bawahan. Superman Is Dead mendapatkan sebuah kontrak yang sangat besar artinya untuk band yang berangkat dari bawah seperti mereka. Hebatnya pihak label yang mau mengejar mereka. Superman Is Dead tidak pernah mengirimkan sekopi pun rekaman atau demo mereka. Si produserlah yang mati-matian meyakinkan mereka agar mau bekerja sama.

Lalu hal yang paling spektakuler pun terjadi. Mereka berhasil memaksa pihak label untuk menuruti keinginan mereka yang bersikeras tetap menggunakan lirik-lirik berbahasa asing di sebagian besar lagunya. Sepanjang pengetahuan saya, hanya Pas Band yang berhasil melakukan hal itu di album kedua mereka In (No) Sensation.

Setelah itu, satu demi satu hal mencengangkan masuk ke dua telinga saya. Mulai dari artwork album yang sangat bebas dan sepenuhnya dikerjakan oleh pihak Superman Is Dead hingga ke video klip yang dibuat salah satu sutradara lokal Bali. Buat saya, itu adalah sebuah prestasi yang sama sekali susah untuk didapat sebuah band lokal yang baru pertama kali berbaju label mayor.

Superman Is Dead punya konsep. Mereka punya sebuah posisi tawar yang sejajar dengan sang label. Jerink suatu kali pernah berkata bahwa mereka tidak menganggap sebuah masalah jika harus merilis album dengan tangan sendiri lagi. Tapi, tidak juga menutup sebuah kerja sama dengan label mayor. Itulah yang tidak banyak diketahui orang. Mereka memulainya dengan sebuah konsep musik yang jelas, sebuah positioning yang bagus, dan tentunya attitude yang bagus.

Tapi semuanya seolah berputar terbalik ketika album baru mereka resmi dirilis ke pasaran. Awalnya beberapa kolega mengkritik kualitas rekaman yang cenderung terdengar pop dan akan jauh lebih baik jika mereka mengerjakannya sendiri di kampung halaman dengan studio jelek. Bukan studio maha mutakhir milik label. Mereka menerimanya. Toh, itu namanya kritik. Bukan penjelekkan. Bagaimana juga, kritikan paling bagus memang datang dari teman. Mereka akan obyektif menilai sebuah karya. Karena memang semuanya murni, tanpa pretensi macam-macam.

Superman Is Dead menyadari kekurang sempurnaan yang mereka miliki dalam rekaman Kuta Rock City. Kalau secara materi album, tidak banyak yang berkomentar. Soalnya, lebih dari setengah lagu di album ini adalah lagu-lagu lama yang sudah pernah dirilis sebelumnya.

Kelar dari kecaman keras beberapa kolega yang menyerang kualitas album mereka, Superman Is Dead mulai menghadapi sebuah tantangan yang besar. Oleh karena publisitas yang sangat besar (diawali ketika mereka terpilih menjadi MTV Eksklusif artist bulan Juli), kiprah band ini pun semakin tersorot oleh media secara luas. Penggemar-penggemar baru pun mulai bermunculan. Kebetulan mereka memainkan musik Punk yang sedang tersedot habis oleh tangan tidak kasat mata bernama Tren. Jadilah Superman Is Dead sebuah ikon punk lokal yang paling menonjol menurut penggemar baru tersebut. Padahal pada kenyataannya tidak ada satu pun ikon punk yang menonjol. Tidak ada satupun yang lebih hebat dari yang lainnya.

Di sisi lain, orang-orang dari scene tempat mereka berasal mulai gerah. Beberapa dari mereka merasa Superman Is Dead telah melacurkan sebuah agama bernama Punk kepada sebuah label mayor yang kemudian menjadikan mereka mesin kapitalis. Mesin pengeruk uang. Padahal, mereka sama sekali kekurangan informasi yang baik, proporsional, tepat, layak, dan benar tentang kiprah band ini.Mulailah muncul satu demi satu anggapan bahwa Superman Is Dead adalah budak kapitalis dengan bergabung dengan mayor label. Superman Is Dead bukan punk lantaran bersedia bergabung dan menjadi sebuah bagian dari mayor label dan industri musik mainstream. Superman Is Dead bukan underground lagi. Superman Is Dead cuma cari uang. Superman Is Dead menjual punk pada masyarakat kapitalistik Indonesia. Bla, bla, bla...
Hal ini seolah semakin terakomodir begitu situs mereka www.supermanisdead.net resmi dibuka. Lama kelamaan message board dan guest book mereka menjadi tempat sampah bagi sebuah perang yang tidak jelas antara pendukung dan pembenci mereka.

Pada awalnya, manajemen band ini berusaha untuk menanggapi satu demi satu keluhan yang masuk. Termasuk menjual konsep freedom to speech dan freedom to act. Dethu dan Ade Putri berusaha melayani semua keluhan yang masuk ke telinga mereka. Tentunya juga berusaha untuk mengklarifikasi setiap tuduhan yang masuk ke tubuh Superman Is Dead. Berusaha meluruskan fakta-fakta yang terdistorsi entah berapa ratus persen.

Tapi usaha itu sama sekali tidak berhasil. Ibaratnya, mereka berdua hanya menabur garam di lautan luas. Pihak-pihak yang merasa punya hak untuk menjadi hakim tanpa status berusaha untuk menjatuhkan Superman Is Dead. Mereka tidak goyah. Dethu dan Ade Putri memang telah
mengurangi serangan balik mereka terhadap para penyerang. Tapi tidak dengan usaha ekstra keras mereka untuk tetap menjadi punkers-punkers sejati.

Bagi orang-orang seperti saya yang sudah menjadi penggemar mereka sejak mereka belum menjadi seperti sekarang ini tentunya sangat sedih. Ketika ratusan bahkan ribuan orang menuduh mereka berubah, menjadi tidak underground lagi, dan berbagai tuduhan miring lainnya,
seolah-olah mereka tidak lebih dari penjahat paling kejam. Kejahatannya: menjual Punk!

***


Banyak orang tidak mengerti secara pasti bagaimana kelakuan sebuah konspirasi bernama Superman Is Dead ini. Sudah terlalu banyak bukti yang bisa dikedepankan untuk menjawab berbagai macam tuduhan yang mampir ke Superman Is Dead. Tapi sayang, kesempatan tidak pernah mampir juga untuk mereka menjelaskan semuanya. Saya sendiri punya berbagai macam memori tentang mereka yang berhasil menancapakan sebuah state of mind bahwa mereka adalah teman, idola, dan partner.

Coba saja seandainya orang banyak tahu berapa banyak orang yang masuk dalam guest list mereka setiap manggung. Berapa banyak uang tambahan yang harus keluar dari kantong mereka hanya sekedar untuk beli bir tambahan karena jatah bir dalam riders pertunjukkan mereka sudah habis. Bagaimana mereka menjual kaos dengan harga murah lantaran tidak enak hati kepada teman. Bagaimana marahnya mereka ketika tahu panitia Clear Top Ten Award menaruh segerombolan penari bodoh untuk mendukung penampilan mereka tempo hari (akibatnya mungkin kerasnya muka Bobby ketika berteriak lagu ini untuk Cheerleader yang ingin
jadi Punk Rock Star sembari menunjukkan telunjuknya ke arah mereka). Masih banyak lagi bukti yang pantas dikedepankan untuk menjadikan mereka kontra dengan berbagai tuduhan itu.

Makin jelas, mereka yang mencela, menghina, berusaha menghancurkan, menjatuhkan karakter Superman Is Dead sama sekali bukan orang yang mengerti mereka dengan baik dan benar. Bagi saya, dalam posisi seorang penggemar, karakter mereka tidak akan pernah berubah. Mereka masih orang-orang lama yang saya kenal sebelum mereka menjadi jauh terkenal seperti sekarang ini.

Mungkin adalah sebuah hal yang sangat perlu jika suatu saat mereka duduk bersama-sama di sebuah meja yang sama dengan berbagai macam pihak yang mengecam tingkah laku mereka yang terstigma dalam sebuah cap negatif produksi omong kosong pinggir jalan. Duduk bersama,
ngobrol bagaimana punk itu seharusnya, bagaimana menjadi pemusik yang baik dan benar, kemudian menggelar konfrensi pers bersama-sama apa akhirnya pembicaraan itu. Tapi, akankah semua menjadi selesai dengan begitu saja?

Saya pernah membayangkan, mungkin di dalam alam pikirannya masing-masing, 4 orang anggota Superman Is Dead (plus Dethu), pasti punya pemikiran sederhana. Awalnya mereka memulai ini hanya untuk bersenang-senang. Memainkan lagu-lagu mereka di depan orang banyak. Dalam pandangan obyektif, yang mereka lakukan adalah bermain musik, jadi mereka hanya pantas disorot dalam segi musik. Tidak lebih. Selebihnya, itu adalah masalah lain. Ketika menengok ke perkataan Chris Joannou di atas, saya yakin ada di antara mereka yang berpikiran seperti ini sekarang. We just loved to play... Nggak lebih.
Superman Is Dead on Facebook
     
No Image Preview No Image Preview No Image Preview
Right click to save and see the images actual size
Back
 
Superman Is Dead on Facebook
 

Superman Is Dead 2008